Pages

Banner 468 x 60px

 

Sabtu, 10 Maret 2012


Aksi #IndonesiaTanpaJIL : PRESTASI & EVALUASI
Jumat siang 9 Maret 2012, gerakan “Indonesia Tanpa JIL” unjuk gigi. Ribuan manusia tumpah di Bundaran HI—meski beberapa wartawan media mainstream menyebut “ratusan orang.” Malah beberapa di antaranya hanya fokus memberitakan kemacetan yang menjadi akibat aksi tersebut, tanpa mengulas apa substansi acaranya. (Lihat foto-fotonya di Foto-Foto Aksi Damai #IndonesiaTanpaJIL 9 Maret 2011 [Full] 
Meski awalnya sempat diguyur hujan lebat, aksi damai tersebut tetap berjalan semarak. Ribuan massa yang didominasi seragam putih tetap bergeming mendengarkan berbagai orasi sambil membawa aneka poster. Tak hanya menyoal JIL, namun banyak poster menolak kenaikan BBM, menuntut pembubaran Ahmadiyah, bahkan wacana revolusi menurunkan SBY-Boediono.
Embrio gerakan ini sebenarnya dimaksudkan untuk mengimbangi gerakan Indonesia Tanpa FPI (ITF), yang marak dijajakan di Twitter oleh kalangan liberal. ITF sendiri dipantik oleh peristiwa penolakan FPI di Palangkaraya beberapa waktu lalu. Gerah dengan ITF, beberapa aktivis Islam di Twitter pun menggelar aksi tandingan, Indonesia Tanpa JIL (ITJ). (Lihat Gerakan Anti FPI JIL Direspon Pengguna Twitter Dengan Gerakan Indonesia Tanpa JIL)
Seperti menemukan pijakan dasar yang tepat, ITJ pun terus menggelinding bak bola salju. Meski bermodal “seadanya”—lapak Twitter, FB dan situs-situs indie—aksi ITJ Jumat lalu menjadi pukulan telak bagi ITF yang beberapa waktu menggelar aksi serupa dihadiri hanya puluhan orang.
Mengukur Kekuatan Media
“Duel” ITF dan ITJ sampai pada episode aksi damai Jumat kemarin menyisakan catatan penting terkait peran media. Dalam kasus ini, media mempunyai dua wajah yang berbeda. Di satu waktu terlihat besar dan hebat, namun tak lebih pepesan kurang berisi. Di sisi lain terlihat sederhana, kurang gegap-gempita, namun justru memiliki efek hebat di lapangan nyata.
ITF adalah contoh wajah pertama. Tragedi penolakan FPI di Palangkaraya dijadikan amunisi utama oleh kalangan liberalis—disokong kekuatan media mainstream—untuk menghabisi riwayat FPI. Beberapa narasumber pun ditampilkan, bak algojo yang sedang mengasah pisau untuk mengeksekusi mati FPI.
Namun, kampanye ITF seperti lenyap ditelan bumi, ketika aksi darat ITF hanya dihadiri segelintir orang. Sebaliknya, ITJ yang hanya disokong publikasi pas-pasan mampu memutihkan bundaran HI. Absennya media-media mainstream dalam mempublikasikan acara tersebut, membuat media-media pinggiran penyokong ITJ semakin getol bersuara.
Fenomena ini membuat kita harus menimbang ulang kadar influence sebuah media. Ternyata, tak selamanya sesuatu yang besar di udara otomatis besar pula di daratan. Perlu survei lapangan untuk lebih memberikan fakta yang lebih mendekati kenyataan, ketimbang sekadar duduk menyimak opini yang bertebaran di media.
Ini bukan untuk meremehkan tebaran opini tersebut. Sekadar penegasan bahwa perlu ada standar pengukuran yang setingkat lebih tinggi dibanding survei yang hanya mengandalkan data mentah dari media. Di sisi lain, “duel” ITF-ITJ memberikan satu kesimpulan: opini media mainstream masih sangat mungkin untuk dikalahkan!
Strategi Advokasi
Di atas telah sedikit disinggung ITJ menemukan pijakan tepat untuk dapat menggelinding besar laksana bola salju. Mereka telah menemukan—meminjam istilah Abu Mus’ab As-Shuri dalam buku Politik Gerakan Jihad-nya—miftah sorro’ yang tepat, yaitu kaum liberalis yang menjadi musuh bersama umat Islam. Pijakan tersebut makin kuat ketika mereka menemukan sansak hidup bernama Ulil Abshar Abdalla. Pembeberan kasus asusila Ulil merupakan pukulan telak bagi kalangan ITF. Ulil datang tepat waktu ketika FPI sulit mencari cara yang pas untuk membela diri.
Sebelumnya, kick back telah dilakukan FPI pasca insiden Palangkaraya dengan mencoba membunuh karakter lawannya. Mulai dari menyebut Teras Narang, Gubernur Kalteng sebagai mafia tanah hingga bandar narkoba, melapor ke Mabes Polri terkait tindakan tidak menyenangkan, hingga mencoba membangun simpati publik dengan tawaran untuk membereskan sarang narkoba di kampung Ambon.
Namun, tubuh FPI sendiri sebenarnya tidak sepi dari masalah. Itulah tampaknya yang membuat kampanye membela FPI jadi kurang greget. Dalam insiden Palangkaraya, advokasi FPI makin melemah, ketika beredar isu bahwa pihak pengundangnya adalah sosok yang sedang tersandung kasus korupsi.  Sementara  di lapangan, beberapa tindak kurang menyenangkan dari 'oknum' FPI tak hanya menyasar kalangan pelaku maksiat. Di Jogja, kaukus elemen umat Islam sempat mengirimkan nota keprihatinan langsung ke Habib Rizieq terkait ulah pimpinan FPI Jogja. (Lihat Surat terbuka Forum Ormas Islam Jogja untuk Habib Rizieq (Kritik Terhadap FPI Jogja)
Ketika seluruh upaya bela diri FPI hampir tak membawa hasil signifikan, kehadiran Ulil yang tampil ikut-ikutan mencela FPI bahkan turut menggulirkan isu ITF, justru menjadi “rahmat” dari langit yang turun untuk FPI. Ia kemudian menjadi sansak hidup yang semakin mengokohkan miftah sorro’ tadi.
Komunikasi Tidak Fokus
Kampanye ITJ berbarengan dengan rencana pemerintah untuk menaikkan harga BBM—sebuah sindrom berkala yang mengerikan bagi banyak rakyat Indonesia. Mungkin bagi pengusung ITJ, kebijakan ini tak lepas dari ideologi para pemimpin negeri ini yang cenderung berpihak kepada ITF. Sementara, bagi ITJ, ada PR besar umat Islam yang belum diselesaikan: Ahmadiyah.
Maka, ditemukan sebuah garis yang menemukan banyak titik. JIL, kenaikan BBM, Ahmadiyah, deligitimasi pemerintahan SBY-Boediono. Entah memang dirancang dari awal atau ditunggangi pihak lain, aksi damai ITJ Jumat lalu diwarnai pula spanduk tolak BBM naik, pembubaran Ahmadiyah, bahkan revolusi untuk mencopot SBY-Boediono.
Banyaknya agenda yang dibawa dengan mencoba memaksakan titik-titik isu tersebut justru kurang menguntungkan kampanye ITJ. Publik sulit menemukan titik fokus yang hendak “dihajar” oleh aksi tersebut, apakah JIL, Ahmadiyah, BBM naik, atau bahkan SBY? Ibarat sebuah pertarungan tangan kosong, efek hujaman jari yang fokus di titik lemah lawan lebih berakibat fatal daripada tamparan tangan—sekeras apapun.
Di sisi lain, pelebaran isu seperti itu sama dengan menambah barisan lawan yang harus ditangai dalam satu waktu. Masalahnya, sudah siapkah pengusung ITJ menghadapi lawan-lawan tersebut dalam waktu yang bersamaan?
Yang lebih mengkhawatirkan, isu BBM dan anti SBY akan menurunkan eskpektasi positif publik terhadap kampanye ITJ. Mereka akan menduga bahwa aksi ini tidak tulus untuk membela Islam dari musuh-musuh yang menodainya, tapi ada tendensi politik tertentu. Apalagi dalam aksi Jumat kemarin, kuat seruan untuk me-replace SBY-Boediono secara sim-salabim dengan tokoh-tokoh yang mereka hormati dalam poster yang diusung: Abu Jibril, Abu Bakar Ba'asyir, Habib Rizieq, Munarman, M. Khaththath dan lainnya.
Mereka, yang terhormat, adalah simbol umat. Namun untuk menilai apakah mereka mampu membawa Indonesia lebih baik, tentu perlu uji kompetensi yang fair. Misalnya dengan pemaparan konsep Indonesia menurut para tokoh terhormat tersebut, tentang bagaimana mengatur negeri ini menjadi lebih baik. Sayang, konsep seperti itu tak pernah muncul. Yang ada adalah agenda nggege-mongso, seperti Dewan Revolusi Islam yang sempat muncul beberapa tahun lalu. Agenda yang lebih bersifat provokasi sporadis, belum menyentuh ke hal-hal solutif. Gerakan #IndonesiaTanpaJIL